Betting odds_Live Casino_Bookmaker Ranking_Baccarat Chinese

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Sorong(Indonesia)Casino

CrBaccarat Live EntertainBaccarat Live Entertainmentmentedit: Baccarat Live Entertainmenthipwee

Ibu rumah tangga atau ibu bekerja, sama aja pusingnya | Credit: Photo by Ketut Subiyanto from Pexels

Makin sibuk makin hebat, makin banyak berkorban makin sip. Duh, mau sampai kapan ya begini? Apalagi, di era pandemi, di saat tekanan makin besar untuk para ibu pekerja yang batas pekerjaan rumah dan kantor sudah nyaris blur. Ibu harus juggling dengan segala kesibukan, tapi tetap dituntut waras.

Kalau HP, baterai habis kan tinggal colok | Credit: Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Hustle culture di kalangan para ibu memang bukanlah hal baru. Dibanding ayah, ibu membawa lebih banyak tanggungan hal untuk diperhatikan karena perempuan kerap dikaitkan dengan kemampuan multitasking. Mulai dari beres-beres rumah, memasak, pengasuhan anak, sampai tanggung jawabnya sendiri soal karier jika sang ibu memutuskan bekerja. Nyatanya, hustle culture ini berisiko besar pada kesehatan mental.

Fun fact, hewan yang dianggap paling pemalas ini justru jadi salah satu hewan panjang umur yang eksistensinya cukup tua di bumi, yaitu sejak 35 juta tahun yang lalu (ya tentu yang sekarang sudah mengalami evolusi ya). Coba lihat juga hewan-hewan slow living seperti kura-kura, umurnya bahkan jauh lebih panjang dari hewan yang ‘super sibuk’.

Ringan banget | Credit: Dok. istimewa author

Kenapa sih hustle culture itu lekat banget di hidup para ibu? Ya, karena pada dasarnya kita para perempuan sedari dulu memang dituntut untuk selalu sibuk. Beberapa hal ini jadi alasan kenapa sih perempuan lumrah banget gabung di geng hustle culture setelah menikah:

Poin menarik lainnya dari buku The Little Book of Sloth Philosophy yang ditulis Jennifer McCartney ini adalah soal tidur. Faktanya, tidur cukup di malam hari bisa meningkatkan level kebahagiaan dan kemampuan berkonsentrasi, memperbaiki kemampuan memori jangka pendek, bahkan membentuk otot! Jadi, kalau kamu masih memegang teguh keyakinan bahwa begadang itu sama dengan kesuksesan, mending pikir-pikir lagi deh.

Beberapa waktu lalu, seorang teman curhat ke saya, betapa dia butuh liburan, lantaran sudah muak sama kerjaan kantor dan juga muak sama kerjaan rumah. Rasanya ingin kabur ke negeri antah berantah, doing nothing for literally nothing, tanpa diricuhkan sama persoalan duniawi seperti masak apa siang ini atau ada meeting apa besok yang harus dipersiapkan. Tapi, kenyataannya ya nggak semudah itu. Pada akhirnya, dia harus bertahan, menerima keadaan.

Jangan lagi ya, kalau ngobrol sama teman (atau siapa pun), balap-balapan soal kesibukan. Ini bukan soal siapa yang lebih sibuk atau banyak berkorban, Bun. Mending kita berlomba-lomba saling menyemangati aja yuk~

Penganut hustle culture memuja keyakinan bahwa semakin sibuk kamu, semakin produktif dan dekat pula kamu pada kesuksesan. Di dunia para ibu, hal ini termasuk normalisasi pengabaian akan kepentingan si ibu sendiri demi anak dan seluruh keluarga. Makin sibuk dan banyak berkorban si ibu, maka si ibu bakal dipandang makin sukses dan keren.

Oh well, kita semua berharap kita bisa selalu memenuhi ekspektasi itu. Tapi, Bun, percaya nggak sih kalau kita ini juga manusia biasa? Kalau fisik lelah ya bisa digempur Geliga, tapi kalau mental yang capek gimana? Slowing down dan mengambil jeda ternyata bisa memberi kita lebih banyak efek positif lo. Lebih rileks dan lebih fokus, misalnya.

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Kata hustle culture emang lagi naik daun banget sekarang. Hustle culture merupakan istilah yang merujuk pada budaya sibuk kerja jam 9-5 sore, dilanjut dengan aktivitas bekerja nyambi-nyambi di rumah dengan embel-embel ‘selalu aktif dan produktif’. Budaya ini mengelu-elukan kebiasaan skip jam makan demi kesibukan, buka laptop, dan cek e-mail kerjaan di mana pun meski sudah jam istirahat atau akhir pekan.

Saat mendengar curhatan itu, saya merasa sangat bisa relate dengan apa yang dirasakannya. Saya juga lelah, terlebih di tengah shitshow pandemi yang seolah tak berujung ini. Sedihnya, saya adalah ibu yang mana saya diharapkan untuk serba bisa mengatur segala hal, termasuk keinginan saya. Ingin me time dan nggak ngapain-ngapain, tapi sebenarnya merasa bersalah gitu, takut malah jadi menyia-nyiakan waktu dan jadi nggak produktif.

Hmm. Tapi, benarkah demikian?

Hustle culture di kalangan para ibu sekilas mungkin terdengar keren, tapi ini sebenarnya berbahaya banget lo. Coba simak dulu alasannya kenapa!

“Kok bisa sih si Ibu Anu itu aktif banget miara 3 anak, body tetap semlohay, kerjaan rumah beres, job lancar dan katanya nggak pernah marah-marah sama anaknya sama sekali? I mean how come? Aku merasa aku belum berhasil jadi ibu.”

“Ih masih mending kamu, Bund. Aku lo, dari subuh begini begitu. Anakmu baru 1, to? Anakku udah 2. Duh, pusingnya bla bla bla. Kamu masih mending bla bla bla.” Seolah-olah sibuk dan lelah itu ajang perlombaan.

Nyatanya, glorifikasi atau kebiasaan mengagung-agungkan hustle culture di kalangan para ibu ini sudah berlangsung sejak dulu lo. Seorang ibu selalu dipuji kalau berpendidikan bagus, berpenghasilan sendiri meski sudah menikah, sembari tetap ambil bagian penuh dalam pengasuhan anak, jago di dapur, dan menjaga relasi dengan pasangan. Belum lagi di kalangan sesama ibu sendiri, sudah lumrah kalau seorang ibu ngeluh soal capeknya, ibu lain kemungkinan besar akan menimpali:

Santai itu dosa, katanya | Credit: Photo by RODNAE Productions from Pexels

Kukang si santuy | Credit: Photo by Carpe Jugulum from Pexels

Dilansir dari Psychology Today, sebuah studi membuktikan bahwa hustle culture nggak ada hubungannya dengan kesuksesan. Kebiasaan ini justru malah bisa memperpendek usia karier, merusak kesehatan mental dan fisik, sampai menghancurkan hubungan kita. Kalau kamu nggak menyediakan waktu untuk menata energi mentalmu, maka sesungguhnya kamu nggak akan  bisa sukses di bidang karier atau yah, dalam rumah tangga. Nah lo. Jujur saya sendiri kewalahan dan mulai banyak berbenah soal kebiasaan bersibuk-sibuk ini.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin sekali mengingatkan kamu, dear ibu-ibu, untuk pikir-pikir lagi soal bergabung ke komunitas hustle culture. Memang benar kita ini makhluk luar biasa, tapi bukan berarti kita nggak boleh capek, nggak boleh istirahat apalagi santai berleha-leha. Sesekali, menikmati hidup boleh kan? Ingat, happy mom, happy family!